Riska Wulandari

Riska Wulandari — Menenun Makna, Menuliskan Damai

Bagi Riska Wulandari, menulis bukan sekadar hobi. Ia adalah cara untuk mengurai benang kusut—baik yang ada di dalam dirinya sendiri, maupun yang ia temukan dalam kehidupan orang lain. Perempuan yang akrab disapa Riska ini tinggal di Tangerang, Banten, dan kini menekuni peran sebagai kontributor tulisan yang mengangkat isu-isu psikologi dalam perspektif Islam dan kontemporer.

Perjalanannya di dunia tulis-menulis tidak dimulai dari panggung besar. Riska lebih sering menulis untuk dirinya sendiri—catatan harian, refleksi, dan coretan-coretan kecil yang membantunya memahami hidup. “Saya masih awam dalam dunia tulis menulis secara publik,” akunya jujur. Namun justru dari kejujuran itulah lahir tulisan-tulisan yang terasa dekat, manusiawi, dan tidak menggurui.

Ketertarikannya pada isu kemanusiaan bukan hal baru. Riska pernah terlibat sebagai penerjemah narasumber di Satoe Indonesia, sebuah pengalaman yang membuka matanya pada pentingnya menyampaikan pesan-pesan kebaikan lintas bahasa dan budaya. Ia juga pernah menjadi relawan pembaca buku untuk anak-anak tuna netra di Yayasan Mitra Netra—sebuah peran yang ia kenang sebagai salah satu momen paling mengharukan dalam hidupnya. “Membacakan cerita untuk mereka mengajarkan saya bahwa mendengar dan hadir itu jauh lebih berharga daripada sekadar berbicara,” tuturnya.

Saat ini, Riska menjalani kehidupan yang padat: bekerja penuh waktu, sambil kuliah. Di tengah kesibukan itu, ia tetap berusaha hadir secara penuh untuk suami, anak, dan keluarga. Ia menyebut dirinya sebagai penggemar ungu yang gemar bercerita, mendengarkan cerita, dan menggores tinta di kertas.

Prinsip hidupnya sederhana namun mendalam:

“Kedamaian dunia dimulai dari berdamai dengan diri sendiri melalui relasi dengan Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Melalui tulisan-tulisannya, Riska ingin mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat psikologi sebagai ilmu, tetapi juga sebagai jalan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ia percaya, setiap kata yang ditulis dengan niat baik adalah benih kedamaian yang suatu hari akan tumbuh, entah di hati siapa.