Humanitarian, Development, and Peace Nexus (HDP Nexus): Paradigma Kolaborasi untuk Krisis Kompleks

Pendahuluan

Saat ini, lebih dari 70% penduduk termiskin di dunia tinggal di negara-negara yang terdampak kerapuhan atau konflik, dan angka ini diproyeksikan mencapai 92% pada tahun 2040 . Di tengah meningkatnya krisis kemanusiaan, konflik berkepanjangan, dan dampak perubahan iklim, pendekatan tradisional yang memisahkan bantuan kemanusiaan (jangka pendek), pembangunan (jangka panjang), dan perdamaian terbukti tidak lagi memadai. Seringkali, bantuan yang diberikan bersifat tumpang tindih, tidak terkoordinasi, dan gagal mengatasi akar masalah.

Sebagai respons terhadap realitas ini, komunitas internasional mulai mengembangkan pendekatan yang lebih terintegrasi. Humanitarian-Development-Peace Nexus (HDP Nexus) pertama kali dikonseptualisasikan sebagai “New Way of Working” pada KTT Kemanusiaan Dunia tahun 2016 dan kemudian diperluas oleh Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada tahun 2019 .

Seperti yang dirangkum dalam motto pendekatan ini, HDP Nexus mencerminkan komitmen untuk bekerja dengan prinsip “prevention always, development wherever possible, humanitarian action when necessary” . Ini bukanlah sekadar tren dalam dunia pembangunan, melainkan sebuah dilema inheren yang mempengaruhi efektivitas bantuan, yang berakar pada struktur kerja sama pembangunan itu sendiri—setidaknya selama kerapuhan dan krisis berkepanjangan tetap menjadi ciri khas konteks pembangunan .


Definisi dan Konsep Dasar HDP Nexus

Apa Itu HDP Nexus?

Secara fundamental, HDP Nexus adalah pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan koordinasi, koherensi, dan saling melengkapi antara aksi kemanusiaan, pembangunan, dan perdamaian, terutama dalam konteks krisis berkepanjangan dan konflik . Pendekatan ini mengakui keterkaitan yang mendalam antara ketiga pilar tersebut .

Diagram 1: Tiga Pilar HDP Nexus

Gambar 1. Humanitarian, Development, and Peace Nexus.
Sumber: Diolah dari Norad dan UNDP

Tujuan HDP Nexus

Tujuan utama HDP Nexus adalah:

  1. Mengurangi kebutuhan kemanusiaan melalui upaya bersama yang berkelanjutan 
  2. Memperkuat ketahanan masyarakat terhadap guncangan di masa depan 
  3. Mengatasi akar penyebab kerentanan dan konflik 
  4. Mendorong solusi yang bertahan lama untuk populasi yang terkena dampak krisis 

Prinsip-Prinsip Operasional HDP Nexus

Kerangka kerja HDP Nexus dioperasionalkan melalui serangkaian prinsip dan elemen panduan :

Tabel 1: Elemen Panduan HDP Nexus

ElemenDeskripsi
Analisis Konteks BersamaPemahaman bersama tentang risiko, kerentanan, dan faktor ketahanan 
Perencanaan TerpaduMenyelaraskan program antar pilar untuk mencapai hasil kolektif 
Koordinasi EfektifStruktur dan mekanisme untuk kolaborasi lintas aktor 
Advokasi TerkoordinasiPesan dan posisi bersama, dengan keterkaitan pada pilar perdamaian 
Pembiayaan yang AdaptifPendanaan multi-tahun dan fleksibel yang memungkinkan penyesuaian 
Pemantauan BersamaMelacak hasil kolektif dan risiko secara bersama-sama 

Analisis konflik dan ekonomi politik, yang jarang mendapat perhatian memadai di luar pilar perdamaian, merupakan prasyarat penting. Jika hanya dilakukan sebagai peristiwa satu kali dan tidak direvisi secara sistematis, analisis tersebut dengan cepat kehilangan relevansinya untuk perencanaan dan program .


Tantangan Implementasi HDP Nexus

Meskipun secara konseptual menarik dan didukung oleh berbagai lembaga internasional, implementasi HDP Nexus menghadapi sejumlah tantangan signifikan.

Diagram 2: Tantangan Utama HDP Nexus

*Sumber: Diolah dari Disasters Journal , Norad , dan Parlemen Eropa *

Penjelasan Tantangan Kunci

1. Ambiguitas Konseptual “Perdamaian”

Salah satu tantangan paling mendasar adalah kurangnya definisi tunggal tentang apa yang dimaksud dengan “perdamaian” dalam konteks HDP Nexus. Istilah ini dapat merujuk pada ‘small p’—kohesi komunitas, kepekaan konflik, atau keamanan sehari-hari—atau ‘big P’—proses politik formal, pembangunan negara, dan transformasi struktural . Konsep ini secara luas selaras dengan perbedaan Galtung antara negative peace (ketiadaan kekerasan langsung) dan positive peace (keberadaan kondisi yang mengatasi kekerasan struktural dan budaya). Pilihan makna memiliki konsekuensi operasional yang signifikan .

2. Keterbatasan Kepemilikan Lokal

Kritik struktural menyoroti bahwa agenda HDP Nexus sebagian besar dibentuk oleh prioritas Global Utara dan proses perencanaan multilateral yang mungkin gagal mencerminkan realitas, agensi, dan keragaman kelembagaan aktor lokal . Banyak organisasi lokal sebenarnya telah bekerja dengan cara ‘mirip nexus’ jauh sebelum triple nexus dikodifikasi. Ketika kerangka nexus dipaksakan dari luar, mereka berisiko menginstrumentalisasi aktor lokal atau mensubordinasikan prioritas mereka pada logika geopolitik atau donor .

3. Pendanaan yang Terpisah

Meskipun para donor secara retoris mendukung HDP Nexus, aliran pendanaan seringkali tetap terpisah dalam ‘silo’ masing-masing, dengan aturan, kerangka waktu, dan tingkat risiko yang berbeda . Hal ini menciptakan sedikit insentif bagi aktor untuk bekerja secara koheren dan saling melengkapi antar pilar, karena sistem tiga pilar yang terpisah dipelihara dan diinsentifkan oleh pendanaan donor .


HDP Nexus dalam Praktik: Studi Kasus

Studi Kasus 1: HDP Nexus di Indonesia

Indonesia memiliki risiko yang saling tumpang tindih, mulai dari konflik, bencana alam, hingga pengungsian yang diakibatkan oleh iklim . Di Indonesia, hubungan kemanusiaan-perdamaian-pembangunan (HDP) menjadi sangat penting mengingat keberagaman populasi, tantangan geografis dan sumber daya alam, serta sistem tata kelola yang kompleks .

Profil HDP Indonesia:

DimensiKarakteristik
PembangunanSistem tata kelola yang kompleks, kesenjangan gender yang terus berlanjut; pencapaian pembangunan terganggu oleh berkurangnya peluang sosial ekonomi akibat COVID-19 
Perdamaian & KeamananBeragam faktor pendorong intoleransi, konservatisme, perpecahan, dan kekerasan; radikalisme dan ekstremisme di tingkat lokal; perempuan belum sepenuhnya dilibatkan dalam agenda perdamaian 
KemanusiaanKerentanan terhadap bencana terkait iklim akibat posisi Indonesia di Cincin Api Pasifik; konflik menyebabkan 4.600 pengungsian baru dan bencana menciptakan 705.000 pengungsian pada tahun 2020 

Proyek “Perempuan Berdaya untuk Perdamaian Berkelanjutan”

Sebagai respons terhadap kompleksitas ini, proyek “Perempuan Berdaya untuk Perdamaian Berkelanjutan” diluncurkan dengan dukungan KOICA (badan kerja sama internasional Korea) . Proyek ini bertujuan untuk:

  • Mengembangkan intervensi terukur yang berkontribusi pada implementasi kebijakan utama di Indonesia yang relevan dengan pencegahan ekstremisme kekerasan, pengurangan risiko bencana, dan pembangunan ketangguhan 
  • Memberdayakan perempuan dengan memberikan kesempatan untuk menerapkan pendekatan inovatif melalui program yang mencakup keseluruhan nexus HDP 
  • Memanfaatkan agenda Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan serta Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 

Proyek ini melibatkan berbagai mitra, termasuk Yayasan CARE Peduli, Wahid Foundation, Save the Children, UNFPA, dan UN OCHA, serta berkolaborasi dengan berbagai kementerian seperti Kemenko PMK, KPPPA, Kemensos, Kemendesa PDTT, Kemendagri, BNPB, dan BNPT .

Studi Kasus 2: Penerapan di Uni Eropa

Uni Eropa dan Tim Eropa telah mengadopsi pendekatan Nexus di lebih dari 25 negara mitra, dari Chad hingga Pakistan . Praktik terbaik dari implementasi ini menunjukkan bahwa pendekatan Nexus dapat meningkatkan dampak dan keberlanjutan ketika diadaptasi dengan konteks lokal dan didukung oleh pembiayaan yang fleksibel .

Pembelajaran Praktis dari Uni Eropa:

  • Membutuhkan waktu dan komitmen untuk koordinasi antar-layanan
  • Integrasi pilar perdamaian tetap menjadi tantangan
  • Siklus pendanaan dapat membatasi fleksibilitas
  • Keberhasilan bergantung pada kepemilikan lokal dan keterlibatan mitra

Komisioner Lahbib menyebutkan proyek-proyek Triple Nexus yang sedang berjalan seperti “implementasi jaring pengaman sosial untuk musim banjir di Pakistan dan manajemen pengungsian populasi di Ethiopia” .

Perspektif Lokal: Nexus yang Sudah Ada

Pergeseran sudut pandang dari narasi eksternal tentang inovasi menuju pengalaman respons yang dijalani menyoroti bahwa dalam banyak konteks, nexus tidak perlu ‘diperkenalkan’; ia sudah ada dalam cara kerja lokal, bahkan jika belum diberi label demikian .

Temuan ini bergema dengan penelitian Brown (2025) dan Vuijk (2025) yang menunjukkan bagaimana organisasi non-pemerintah nasional di Sudan Selatan telah lama beroperasi di seluruh domain kemanusiaan, pembangunan, dan perdamaian karena kebutuhan pragmatis daripada karena inisiatif yang didorong oleh donor .


Kesimpulan

Humanitarian, Development, and Peace Nexus (HDP Nexus) adalah pendekatan yang muncul sebagai respons terhadap keterbatasan pendekatan berbasis silo dalam menangani krisis yang semakin kompleks. Dengan menyatukan tiga pilar—bantuan kemanusiaan, pembangunan, dan perdamaian—pendekatan ini berupaya menciptakan sinergi yang lebih besar dan hasil yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat yang terkena dampak krisis.

Meskipun secara konseptual menarik dan didukung oleh berbagai lembaga internasional, implementasi HDP Nexus masih menghadapi berbagai tantangan: ambiguitas konseptual, keterbatasan kepemilikan lokal, pendanaan yang terpisah, hambatan organisasi internal, dan ketegangan antara netralitas kemanusiaan dengan kolaborasi politik. Namun demikian, seperti yang ditunjukkan oleh praktik di Indonesia dan berbagai negara lainnya, pendekatan ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas intervensi di tengah krisis yang semakin kompleks.

Seperti yang dirangkum oleh motto pendekatan ini, masa depan aksi internasional terletak pada kemampuan untuk bekerja dengan prinsip “prevention always, development wherever possible, humanitarian action when necessary” —sebuah visi yang menuntut kolaborasi lintas pilar, kepemilikan lokal yang kuat, dan komitmen untuk mengatasi akar penyebab kerentanan dan konflik .


Daftar Pustaka

  1. “The humanitarian–development–peace (triple) nexus: a typology and critical reflections.” Disasters Journal, Wiley Online Library, 2026. 
  2. “NORAD Discussion Paper: Making Sense of the Nexus.” Norad, April 2023. 
  3. “Perempuan Berdaya Untuk Perdamaian Berkelanjutan: Menerapkan Nexus Perdamaian-Kemanusiaan Untuk Peningkatan Ketangguhan.” UN Women/KOICA Project Brief, 2023. 
  4. Meininghaus, E., Kemmerling, B., Haidara, B., & Müller-Koné, M. “Good Practice Guide for HDP Nexus Operationalisation.” BICC, 2025. 
  5. “HDP Nexus – Enhancing Impact through Collaboration across Humanitarian, Development and Peace Interventions.” European Union Capacity4Dev, 2025. 
  6. “Understanding the triple nexus.” European Parliament Briefing, 2025. 
  7. “Mapping of Good Practice in the Implementation of Humanitarian-Development-Peace Nexus Approaches – Synthesis Report.” ReliefWeb/IASC, September 2024. 
  8. “Holistic effort.” Norad, 2024. 
  9. “A Mapping and Analysis of Tools and Guidance on the H-P Linkages in the HDP-Nexus.” IASC, February 2022. 
  10. “Humanitarian-Development-Peace Nexus Approaches.” UNDP Arab States, 2025.