Catalyst Changemakers Ecosystem — Yayasan Synersia
Nama Program: Golo Mori: Todo Cama (Golo Mori: Berkarya Bersama)
Pelaksana: Yayasan Synersia
Pendana: GoTo Impact Foundation (Yayasan Anak Bangsa Bisa)
Lokasi: Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur
Periode: 2023-2025
Latar Belakang
Desa Golo Mori terletak di pesisir selatan Pulau Flores, sekitar 70 kilometer dari Labuan Bajo. Desa ini berpenduduk kurang lebih 2.034 jiwa, yang mayoritas berasal dari suku Manggarai dan Bima. Sekitar 80% penduduk menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perikanan. Selama bertahun-tahun, desa ini terkendala keterbatasan infrastruktur. Sebelum pembangunan jalan nasional pada tahun 2023, akses menuju Labuan Bajo hanya dapat ditempuh melalui jalur laut dengan waktu tempuh 2,5 hingga 3 jam.
Seiring penetapan kawasan ini sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan lokasi penyelenggaraan KTT ASEAN 2023, Desa Golo Mori menghadapi tekanan baru: pembangunan pariwisata yang pesat di satu sisi, serta tantangan transformasi sosial dan lingkungan di sisi lain. Data tahun 2022 mencatat bahwa wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya menghasilkan sekitar 16 ton sampah per hari yang masuk ke tempat pemrosesan akhir.
Posisi Program
“Golo Mori: Todo Cama” merupakan salah satu program percontohan yang terpilih dalam inkubasi Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) angkatan kedua. CCE menerapkan pendekatan ekosistem inovasi dengan mempertemukan organisasi masyarakat sipil dan perusahaan rintisan teknologi melalui penguatan kapasitas dan kolaborasi. Dari 16 solusi yang terpilih, program ini menjadi salah satu dari tiga percontohan yang diimplementasikan.
Yayasan Synersia berperan sebagai anggota aliansi pelaksana bersama Divers Clean Action, Karma Bumi, dan Kole Project. Program ini bertujuan menjadikan Golo Mori sebagai desa penyangga yang berdaya dalam perencanaan Kawasan Ekonomi Khusus, melalui keterpaduan pengelolaan sampah dan pertanian regeneratif untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.
Strategi Utama
Program ini berpijak pada empat solusi utama:
1. Pengelolaan Sampah Terpadu
Merespons peningkatan volume sampah akibat pembangunan pariwisata, program ini membangun mekanisme pemilahan dan pengolahan sampah tingkat desa, sekaligus mengubah sampah organik menjadi bahan masukan pertanian.
2. Pertanian Regeneratif dan Ketahanan Pangan
Pemanfaatan kompos dari sampah organik untuk memperbaiki kualitas tanah dan mendorong praktik pertanian regeneratif. Sekitar 80% penduduk Golo Mori bekerja di sektor pertanian, namun menghadapi degradasi lahan dan keterbatasan air.
3. Diversifikasi Ekonomi
Memperluas sumber penghasilan masyarakat di luar sektor pertanian dan perikanan yang selama ini dominan, sehingga ketergantungan pada satu sektor dapat dikurangi.
4. Pariwisata Berbasis Masyarakat
Mengembangkan layanan wisata dengan masyarakat sebagai pelaku utama, agar manfaat ekonomi pariwisata tetap bertahan di tingkat lokal.
Mekanisme Kolaborasi
Program ini menerapkan pola kolaborasi multipihak yang melibatkan: warga dan pemerintah Desa Golo Mori; Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat beserta instansi terkait (Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah); Badan Otorita Pariwisata Flores Labuan Bajo; serta Politeknik El Bajo Commodus. Kerangka kolaborasi ini dirancang untuk menyelaraskan kebutuhan masyarakat, kebijakan daerah, dan sumber daya teknologi, sehingga solusi yang dihasilkan dapat diterapkan dan berkelanjutan.
Capaian yang Diharapkan
Program ini menetapkan tiga sasaran utama: meningkatkan skor desa tangguh bencana di Golo Mori; mengubah sampah organik menjadi sumber daya pertanian sehingga pencemaran lingkungan berkurang dan kesehatan tanah membaik; serta meningkatkan pendapatan petani setempat agar masyarakat memiliki kemandirian ekonomi di tengah arus pembangunan pariwisata.
Ringkasan Keunggulan Program
Golo Mori: Todo Cama merupakan praktik unggulan Yayasan Synersia dalam ekosistem CCE, yang mencerminkan pola kolaborasi “organisasi masyarakat sipil + perusahaan rintisan teknologi + partisipasi warga + sinergi pemerintah.” Dengan pengelolaan sampah sebagai titik masuk, program ini menyinergikan tata kelola lingkungan dan ekonomi pertanian, sekaligus menjawab persoalan inti: bagaimana komunitas pinggiran menghadapi pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus tanpa tersisih, dan bagaimana mereka dapat turut menikmati manfaat pembangunan.
